Laman

Minggu, 10 Maret 2013

Perbedaan demokrasi liberal dan demokrasi pancasila



Demokrasi liberal merupakan demokrasi yang dicetuskan semasa perang dingin yaitu dicetuskan oleh tiga orang eropa  Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Demokrasi ini sangat bertentangan dengan demokrasi Komunisme. Demokrasi ini hanya dipakai untuk orang orang borjuis yang mengatasnamakan rakyat. Semboyan yang paling akrab dari demokrasi ini adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Bahkan ada sebagian yang mengatakan bahwa suara rakyat adalah Suara Tuhan.
Demokrasi ini dipakai untuk sistem presindensil dan sistem parlemen, dimana rakyat memilih presiden dan wakil rakyat. Demokrasi ini sering dipakai oleh negara Amerika Serikat, Kanada, Australia dan juga lainnya termasuk Indonesia.
Demokrasi ini diaplikasikan dalam pemilihan presiden/perdana mentri, dan juga wakil rakyat yang terimplementasikan didalam DPR dan MPR dengan sistem kepartaian. Sementara dinegara Indonesia sendiri sampai dengan saat ini berlaku sistem multi partai. Dan Pemilihan presiden, wakil presiden dan wakil rakyat dilaksanakan dalam suatu Pemilihan Umum.
Pemilihan Umum biasanya dilakukan oleh negara Indonesia 5 tahun sekali. Sistem demokrasi liberal ini memakan biaya yang sangat sangat tidak sedikit dalam pelaksanaannya. Bahkan mencapai triliyunan rupiah dalam setiap pelaksanaanya untuk tingkatan negara dan puluhan milyar rupiah untuk tingkat daerah. Sistem Demokrasi ini sangat memerlukan biaya pelaksanaan maupun biaya untuk menjadi orang  terpilih yaitu presiden dan wakil rakyat.
Sistem pemilihan ini mengutamakan siapa yang memperoleh suara terbanyak merekalah yang akan terpilih menjadi presiden, wakil presiden dan wakil rakyat, walaupun kualitas dari mereka sendiri sangat diragukan. Dikarenakan biaya untuk menjadi orang terpilih sangat memakan biaya yang sangat besar maka sangat pantas jika mereka kembali memikirkan bagaimana mengembalikan uang yang telah keluar bahkan kalo bisa untung. Walaupun ada juga yang ikhlas demi persatuan negara, tapi itu sedikit sekali.
Sistem demokrasi ini lebih berorientasi kepada suara terbanyak yang berpartisipasi, walaupun bisa jadi justru lebih banyak suara yang tidak berpartisipasi (golput), dan para pelaksana demokrasi ini tidak mempedulikan akan suara Golput, walaupun golput bisa lebih besar dari pada yang berpartisipasi. Bisa jadi mereka yang Golput memang sudah tidak menghendaki demokrasi ini.
Apakah rakyat dapat merasakan manfaat dari hasil demokrasi liberal ini?
Sangat sedikit manfaat yang diperoleh oleh rakyat dengan sistem pemilihan ini. Rakyat hanya dibutuhkan hanya pada saat pemilihan umum, tetapi setelah pemilu selesai dan rakyat kembali diabaikan. Bahkan Lenin sendiri mengatakan bahwa sistem demokrasi liberal ini hanya akal akalan dari kaum borjuis. Ini terbukti dimana kemudian suara rakyat ditendang dan dikhianati dengan kebijakan kebijakan yang diambil oleh para penguasa hanya menguntungkan dirinya dan segelintir orang.
Dari pembahasan diatas sangat susah rasanya kita akan mendapatkan seorang pemimpin yang kita idam-idamkan akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang jaya, apalagi mengharapkan seorang Ir. Soekarno dan juga Satria Piningit. Walaupun ada beberapa negara yang dapat memilih pemimpin yang baik, seperti  Presiden Iran Ahmadinejad.
Masihkah sistem demokrasi ini kita pilih untuk bisa memajukan Bangsa???

Meskipun sama-sama menggunakan sistem demokrasi, terdapat perbedaan-perbedaan mendasar antara sistem politik demokrasi liberal dengan sistem politik Demokrasi Pancasila. Penyebabnya adalah adanya perbedaan pandangan hidup (falsafah) dari negara-negara yang mempraktikkannya.    Sistem politik demokrasi liberal menggunakan falsafah liberalisme, sedangkan pada sistem politik Demokrasi Pancasila menggunakan falsafah Pancasila.

Perbedaan-perbedaan tersebut, antara lain, sebagai berikut.

1.       Demokrasi liberal mengakui adanya kebebasan individual sehingga memiliki paham individualis, sedangkan Demokrasi Pancasila mengakui bahwa manusia adalah makhluk pribadi dan makhluk sosial. Kedua hal tersebut harus seimbang dan selaras. Kebebasan individu tidak boleh merusak kerja sama antarwarga, begitu juga kerja sama warga tidak boleh merusak kebebasan individu.
2.       Negara dalam demokrasi liberal adalah negara sekuler, sedangkan negara dalam Demokrasi Pancasila adalah sosial religius.  Demokrasi merupakan prinsip universal, bahkan hampir semua negara di dunia menganut ajaran demokrasi ini, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.  Demokrasi Pancasila adalah sistem demokrasi yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia karena pada dasarnya, Pancasila merupakan nilai-nilai kehidupan yang telah ada sebelum negara ini diproklamasikan. Salah satunya adalah musyawarah untuk mufakat yang menjadi dasar bagi sistem politik di Indonesia.

SEANDAINYA AKU BISA BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK NEGERI INI…

Tidak ada komentar: